MataWarga.co.id – Perkumpulan Keluarga Nagekeo Kota Batam, memperkenalkan Tinju Adat atau Etu kepada masyarakat di Kota Batam. Kegiatan tinju adat ini, dalam rangka merayakan ulang tahun paguyuban Kabupaten Nagekeo di Kota Batam. Tinju Adat atau Etu ini, akan dilaksankan pada Sabtu (2/9) dilapangan Tunas Regensi Sagulung.
Etu atau Ritual Tinju Adat merupakan salah satu kekayaan adat dan budaya yang menjadi tradisi serta kearifan lokal, masyarakat Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Setiap ritual mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Tujuan ritual pada umumnya adalah mendapat berkat atau rezeki dari setiap usaha yang akan dikerjakan.
Salah satu ritual adat dalam budaya Nagekeo ialah Tinju Adat, yang dalam bahasa daerah disebut dengan ” Etu “.
Ritual Etu adalah sebuah acara tinju adat yang dilakukan secara turun temurun setiap tahun, sebagai simbol rasa syukur atas panen yang di peroleh.

Tinju atau Etu sendiri biasanya dilakukan kaum laki-laki masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo. Upacara ini telah lama dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun dari nenek moyang.
Ritual Tinju Adat, bukan sekedar ingin menunjukan sikap balas dendam setiap individu melainkan, tinju hanya bagian dari pengorbanan, yang ditandai dengan darah yang keluar dari tubuh sebagai simbol dari kesuburan.
Ada makna yang lebih dari upacara ini yakni mengajak generasi berikutnya untuk semakin mempererat persaudaraan atau kebersamaan, dengan sikap konsistensi, dan saling menghargai dengan harapan agar dapat membentuk karakter setiap orang.
Sebelum memulai Ritual Etu, para petarung akan berdiri menghadap Peo dan meminta Pertolongan Tuhan dan leluhur.
Jenis tinju ini, seperti tarung bebas tanpa menggunakan pengaman (safety). Dalam pertarungan akan dipimpin oleh tiga wasit. Dalam pertandingan, setiap petinju yang banyak mengeluarkan darah, masyarakat setempat meyakini akan mendapat banyak rejeki.
Masyarakat percaya bahwa dengan melakukan ritual ini, mereka selalu diingatkan akan kehadiran Yang Ilahi dan leluhur dalam hidup dan dapat menjaga segala tingkah laku, sopan santun dalam hidup bersama.
Ritual ini juga bertujuan untuk memulihkan kembali manusia ke dalam tatanan alam sehingga manusia dapat berpartisipasi dalam tata keselamatan.

Ketua Nagekeo Kota Batam, Hilarius menjelaskan, bertepan dengan ulang tahun yang kelima, maka masysrakat Nagekeo yang berada di Kota Batam, mencoba memperkenalkan Tinju Adat atau Etu sebagai upaya memperkenalakan budaya Nagekeo ke orang lain sekaligus melestarikannya.
“Dengan menggelar Tinju Adat atau Etu ini, kami berharap masyarakat dikota Batam bisa mengenal tradisi tinju adat (Etu). Dan sebagai orang yang terlahir di Nagekeo bisa melestarikan budaya ini, dimanapun berada”ungkap Hilarius.

















































